Deteksi Dini Malaria di Kawasan Tambang Huntuk, Dinkes Boltara Temukan Banyak Sarang Nyamuk Anophles

Boltara, temposatu.com – Upaya pengendalian dan pencegahan penyebaran malaria terus digencarkan Dinas Kesehatan dalam hal ini Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) menyusul meningkatnya kasus malaria di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara). Melalui kegiatan Mass Blood Survey (MBS) yang dilaksanakan di kawasan tambang Desa Huntuk, Kecamatan Bintauna, petugas melakukan pemeriksaan kesehatan sekaligus survei lingkungan guna memutus rantai penularan malaria.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh ditemukannya 9 kasus malaria terkonfirmasi sejak April hingga Juni 2026 dengan klasifikasi transmisi lokal (endemis). Kondisi tersebut menyebabkan Kabupaten Boltara ditetapkan sebagai wilayah dengan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Malaria.
Mass Blood Survey yang berlangsung pada Selasa (9/6/2026) ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini kasus malaria pada pekerja tambang serta memperkuat langkah pencegahan guna menekan potensi penyebaran penyakit di wilayah tersebut.
Sebelum pelaksanaan pemeriksaan, tim terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan Kepala Puskesmas Bintauna dan Pemerintah Desa Huntuk. Selanjutnya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai tujuan kegiatan, pendataan sasaran pemeriksaan, pengambilan sampel darah menggunakan metode Rapid Diagnostic Test (RDT), pencatatan hasil pemeriksaan, edukasi kesehatan, pembagian kelambu berinsektisida, hingga survei jentik nyamuk serta penaburan larvasida pada lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk malaria.
Dari hasil pemeriksaan terhadap 25 pekerja tambang, seluruh sampel darah menunjukkan hasil non-reaktif (negatif) malaria. Meski demikian, tim menemukan fakta penting dari hasil survei lingkungan.
Petugas menemukan banyak breeding place atau lokasi perindukan nyamuk di sekitar kawasan tambang. Setelah dilakukan penyidukan dan pengamatan, ditemukan adanya jentik nyamuk Anopheles, yakni jenis nyamuk yang berperan sebagai vektor penular malaria. Temuan ini mengindikasikan bahwa Desa Huntuk merupakan daerah reseptif dengan potensi tinggi terjadinya penularan malaria, sehingga dikategorikan sebagai desa fokus aktif.
Sebagai langkah pengendalian, petugas langsung melakukan larvasiding atau penaburan larvasida pada lokasi yang positif terdapat jentik nyamuk Anopheles. Selain itu, kelambu berinsektisida juga dibagikan kepada para pekerja tambang untuk meningkatkan perlindungan dari gigitan nyamuk saat beristirahat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara melalui Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P), Sry Yudi Kohongia, SKM, mengatakan bahwa hasil pemeriksaan darah yang seluruhnya negatif merupakan kabar baik. Namun demikian, masyarakat dan para pekerja tambang tidak boleh lengah mengingat masih ditemukannya banyak lokasi perindukan nyamuk Anopheles di sekitar kawasan tambang.
“Meskipun hasil pemeriksaan terhadap 25 pekerja tambang menunjukkan hasil negatif malaria, kami tetap meningkatkan kewaspadaan karena hasil survei lingkungan menemukan banyak breeding place yang positif terdapat jentik nyamuk Anopheles. Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut masih memiliki risiko penularan malaria yang cukup tinggi apabila tidak dilakukan pengendalian secara berkelanjutan,” ujar Sry Yudi Kohongia.
Ia menegaskan bahwa pengendalian malaria tidak hanya dilakukan melalui pemeriksaan dan pengobatan, tetapi juga harus didukung oleh pengelolaan lingkungan yang baik serta keterlibatan aktif seluruh pihak.
“Kami berharap dukungan lintas sektor, pemerintah desa, pengelola tambang, dan masyarakat dapat semakin diperkuat. Pencegahan malaria merupakan tanggung jawab bersama. Dengan deteksi dini, pengendalian vektor, penggunaan kelambu berinsektisida, serta peningkatan kesadaran masyarakat, kita dapat mencegah munculnya kasus-kasus baru dan mempercepat penanganan KLB malaria di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara,” tambahnya.
Pelaksanaan kegiatan tidak terlepas dari berbagai tantangan. Salah satu hambatan utama adalah rendahnya partisipasi sebagian pekerja tambang yang berada di lokasi penambangan jauh dari pemukiman. Selain itu, akses menuju lokasi tambang tergolong ekstrem dan hanya dapat dilalui kendaraan tertentu.
Kondisi cuaca yang kurang mendukung turut memperburuk akses jalan menuju area tambang. Keterbatasan waktu pelaksanaan di lapangan serta masih lemahnya dukungan lintas sektor juga menjadi faktor yang memengaruhi optimalisasi kegiatan.
Sebagai tindak lanjut, Bidang P2P akan melaksanakan pemeriksaan lanjutan terhadap para pekerja tambang melalui pos-pos atau pintu masuk menuju lokasi pertambangan. Selain itu, upaya advokasi dan penguatan koordinasi lintas sektor akan terus ditingkatkan guna mendukung percepatan pengendalian malaria di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Pemerintah berharap seluruh elemen masyarakat, perusahaan tambang, pemerintah desa, serta instansi terkait dapat berperan aktif dalam mendukung upaya pencegahan dan pengendalian malaria demi mewujudkan lingkungan yang sehat dan bebas dari penularan penyakit.
(Angki)




